Selamat Datang Di Blog Saya

Senin, 20 Januari 2014

Makanan Sehari-hari Penduduk Jepang

Pada prinsipnya, makanan sehari-hari orang Jepang tidaklah begitu jauh berbeda dari kebiasaan orang Asia pada umumnya, yaitu makan tiga kali sehari dan yang dimakan adalah nasi beserta lauk-pauknya. Yang berbeda adalah lauk-pauknya dan cara mengolahny, meskipun nasinya agak sedikit berbeda. Nasi Jepang dibuat dari beras jenis Japonica yang bentuknya lonjong membilat (pendek) dan agak lengket (berbeda dengan jenis beras indica yang umum dimakan masyarakat Asia, termasuk Indonesia)
Secara umum, masakan tradisional Jepang dikatakan merupakan makanan yang menyehatkan karena cukup protein, relatif rendah kalori, dan mengandung zat-zat gizi yang penting. Pada prinsipnya masakan Jepang dibuat dengan tidak terlalu banyak bumbu dan tidak makan banyak waktu.
Sehari-hari orang Jepang makan semangkuk nasi (nasi tidak ditaruh di piring lebar seperti di Indonesia) dan beberapa macam lauk-pauk seperti ikan panggang atau daging masak kare, dsb., tahu, sayuran, acar dan sup (biasanya sup rasa tauco miso), serta kecap asin shoyu. Pada pagi har, sarapan biasanya berupa roti dan selai (jam), susu dan telur meski masih ada keluarga-keluarga Jepang yang makan makanan tradisional Jepang. Nasi dimakan dengan sumpit. Lauk-pauk diletakkan di piring (terpisah). Waktu bepergian atau ke tempat kerja, orang Jepang membawa bekal yang dinamakan o-bentoO-bento adalah sekotak nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Di stasiun-stasiun kereta api di Jepang terlihat banyak dijual o-bento yan bagus kemasannya dan lezat isinya; dikenal sebagai ekiben (nasi kotak stasiun).
Masakan yang dibuat oleh para ibu rumah-tangga Jepang dewasa ini sangat bervariasi, tidak hanya masakan Jepang saja. Terkadang mereka membuat masakan China, masakan Barat, dsb. karena dalam hal masakan (seni kuliner) orang Jepang mau menerima berbagai pengaruh dari luar Jepang, padahal masyarakat Jepang "belum lama" mengenal makan daging sapi. Barulah sejakMasa Kaisar Meiji (1868-1903) masyarakat Jepang mulai memasukkan daging sapi sebagai bahan makanannya. Masakan sukiyaki adalah masakan berkuah pertama yang memakai bahan daging. Pengaruh asing dalam masakan Jepang terlihat, misalnya dalam wujud masakantempura yang meliputi udang, ayam, ubi, dsb. yang dibalut tepung kemudian digoreng, dimakan dengan saus kecap asin berbumbu jahe parut, dsb. Tempura adalah hasil adaptasi dari makanan Portugis.
Kecap asin atau shouyu merupakan salah satu unsur terpenting dalam masakan Jepang. Ada istilah "sa-shi-su-se-so" yang diambil dari suku kata pertama dari berbagai bahan makanan yaitu:sa (dari kata 砂糖satou ''gula'), shi (dari kata 塩 shio 'garam'), su (dari kata kata 酢 su'cuka'), se(dari kata しょうゆ shouyu 'kecap asin') dan so (dari kata 味噌mis'tauco' atau pasta kedelai). Itulah bumbu yang terpenting digunakan dalam masakan Jepang, ditambah beberapa unsur lagi yaitusake (arak) dan mirin (arak manis khusus untuk masak);wakame(rumput laut, berupa lembaran coklat tua kehijauan); wasabi(sejenis lobak, berwarna hijau, diparut atau dibuat sebagai serbuk, rasanya pedas menyengat); sanshou (bubuk merica Jepang);shouga(jahe, biasanya diparut); dan lain-lain. Tentu saja ikan (sakana, dalam bahasa Jepang),tofu (tahu), miso (semacam tauco) dan natto (pasta kedelai, mirip tauco kental) merupakan unsur penting yang mutlak ada dalam makanan Jepang.
Untuk saus, ada beberapa macam seperti tare yang biasanya dipakai untuk mengoles masakan panggangan, tsuyu terutama untuk soba,tenpura, dll. Saus dari Barat yang juga dipakai sebagai, disebut sebagaisauce saja. Keluarga Jepang menghidangkan sekihan (nasi merah) dan kacang merah sebagai ungkapan syukuran.
Mie (ada beberapa jenis) dan teh hijau ocha merupakan makanan dan minuman penting dalam makanan Jepang. Bila tidak makan nasi, orang Jepang pasti makan mie (terutana nie kuah). Secara garis besar ada tiga macam mie, yaitu ramen (seperti mie yang biasa dimakan di Indonesia), soba dan udon.





Jenis Makanan Berdasarkan Proses Membuatnya.
Yakimono, merupakan makanan yang dipanggang, seperti sate ayamyakitori, dll.
Nimono, merupakan makanan rebusan yang diberi bumbu seperti kecap, mirin, dll. dimasak dalam pot keramik tebal
Agemono, merupakan makanan gorengan: ada yang dilapisi tepung, yaitu karaage, ada yang tidak dilapisi tepung yaitu suage. Contoh masakan ini adalah, tenpura
Mushimono, merupakan makanan yang ditim; contohnya chawan mushi (telur campur kukus)
Sunomono, merupakan masakan berbahan ikan atau sayuran yang diberi cuka
Yosemono dan Nerimono, merupakan pasta ikan mirip bakso ikan, bentuknya memanjang dan diiris
Gohan, terutama nasi putih yang ditempatkan di dalam mangkuk. Terdiri atas Onigiri (nasi kepal yang berisi potongan ikan, acar, dll.) dan Sushi yang merupakan nasi gulung yang dipotong-potong, diberi sedikit cuka, rumput laut dan di bagian atasnya ada sesayat ikan mentah, cumi, dll.
Menrui, berbagai jenis mie, mencakup ramen, udon, soba, dll.
Nabemono, makanan yang dimasak dalam periuk gerabah dan berkuah
Kamameshi, makanan yang dimasak dalam periuk besi
Kayu, merupakan bubur nasi
Donburi mono, merupakan semangkuk nasi yang di atasnya diberi lauk-pauk sedikit
Aemono, merupakan makanan salad
Koumono, acar sayuran
Suimono, masakan yang berupa sup

Teh Hijau atau ocha merupakan minuman teh sehari-hari orang Jepang. Di manapun kita bertamu di Jepang, pasti akan dihidangkan ocha. Biasanya ocha yang dihidangkan dalam kondisi panas serta tambahan bahan apapun termasuk gula. Ternyata, orang Jepang tidak terbiasa memasukkan gula dalam minumannya, sekalipun ke dalam minuman burakku koohii atau black coffee. Ocha dikenal sebagai minuman pelarut lemak dan penyegar.
Hashi atau Sumpit
Dalam membicarakan makanan (nasi dan lauk-pauknya), ada beberapa hal tabu mengenai penggunaan sumpit sebagai alat makan, yaitu: jangan menusukkan sumpit tegak di atas nasi; jangan meletakkan sumpit melintang di atas mangkuk (letakkan sumpit pada tatakan sumpit); jangan memakai sumpit yang sama untuk menusuk makanan dan memasukkannya ke dalam mulut; dan jangan memutar-mutarkan sumpit untuk mencari makanan atau mengorek-ngorek makanan dalam mangkuk. Sumpit hanya boleh dipakai untuk menjepit makanan yang akan dimasukkan ke dalam mulut.

Minggu, 12 Januari 2014

KEAGAMAAN MASYARAKAT JEPANG


Ada yang bilang bahwa Jepang adalah negara yang tidak memiliki agama, apakah itu benar?Di sekolah kita diajarkan bahwa agama (mayoritas) orang Jepang adalah Shinto dan Budha. Informasi ini tidak salah. Hanya saja bisa menimbulkan salah paham kalau kita membayangkan agama itu dihayati dan dijalankan seperti di Indonesia.
Kalau ditanya soal agama orang Jepang modern cenderung mengaku tidak beragama (musyukyo). Mereka juga sering mengungkapkannya dengan cara lain. “Nihonjin wa syukyo ni mukanshin.” (Orang Jepang tidak punya minat pada agama.). Saya melihat orang Jepang tidak beragama dalam arti tidak terikat pada suatu agama tertentu (organized religion).
Di Jepang kita bisa menemukan banyak sekali tempat ibadah, yaitu kuil Budha (otera) dan kuil Shinto (jinja). Tapi kita tidak akan menemukan orang-orang yang secara berkala melakukan ritual ibadah di situ. Paling-paling mereka melakukan ritual secara insidental, misalnya saat tahun baru.
Lebih penting lagi, mereka tidak terikat untuk melulu melakukan ibadah menurut tata cara salah satu agama. Saat kelahiran anak orang Jepang membawanya ke jinja untuk upacara Omiya-mairi (お宮参り). Demikian pula saat anak berumur 3, 5, dan 7 tahun, ada ritual Shichigosan (七五三)yang dilakukan di jinja. (Sichigosan artinya tujuh lima tiga.) Tapi saat meninggal, upacara penguburan dilakukan dengan tata cara Budha di Otera.
Lebih menarik lagi, sekarang ada tren untuk menikah dengan tata cara Kristen. Di hotel-hotel tertentu tersedia kapel. Bukan untuk beribadah, tapi untuk upacara pernikahan. Yang menikah bukan orang yang beragama Kristen. Yang menikahkan juga bukan pendeta. Biasanya cuma orang bule yang bekerja paruh waktu sebagai tukang menikahkan. Saat Natal orang Jepang membeli dan makan Christmas cake, tapi mereka tidak ke gereja.
Tentu saja ada sebagian kecil orang Jepang yang menekuni agama secara serius. Namun secara umum bisa dikatakan bahwa orang Jepang itu tidak beragama. Perlu ditambahkan bahwa hari-hari libur nasional Jepang tidak ada yang merupakan hari libur keagamaan. Bahkan hari Natal sekalipun di Jepang bukan hari libur.
Bagaimana dengan Islam? Jumlah orang Islam cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Ini diiringi dengan meningkatnya jumlah mesjid. Beberapa kota besar seperti Tokyo, Kobe, Nagoya, dan Fukuoka sudah memiliki mesjid.
Orang Islam di Jepang umumnya adalah imigran dari negara-negara berpenduduk muslim, seperti Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Mesir, dan lain-lain. Sebagian datang sebagai mahasiswa, kemudian bekerja. Juga ada yang datang sebagai pekerja maupun pengusaha. Beberapa dari mereka menikah dengan orang Jepang, dan pasangannya ini masuk Islam. Juga ada beberapa orang Jepang yang masuk Islam atas kemauan sendiri. Tapi jumlahnya tidak banyak.

Jumat, 10 Januari 2014

Baju Tradisional Jepang

Di hari ini kita akan membahas tentang Baju Tradisional Jepang, ini dia...

1. Kimono
Kimono (着 物 ) adalahpakaian tradisionalJepang. Arti harfiah kimono adalahbaju atau sesuatu yang
dikenakan (ki berartipaka i, danmono berartibarang).
Pada zaman sekarang, kimono berbentuk seperti huruf “T”, miripmantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga ke pergelangan kaki. Wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan. Kerah bagiankanan harus berada di bawah kerah bagiankiri. Sabuk kain yang disebutob i dililitkan di bagianperut/pinggang, dan diikat di bagianpunggung. Alas kaki sewaktu mengenakan kimono adalahzōri ataugeta.Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan sejenis kimono yang disebut furisode.[1] Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakanfurisod e untuk menghadiri seijin shiki.
Pria mengenakan kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono.[2] Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan Shichi- Go-San. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (ryōtei) dan pegawai penginapan tradisional (ryokan).
Pakaian pengantin wanita tradisional Jepang (hanayome ishō) terdiri darifurisod e danuch ikake (mantel yang dikenakan di atasfurisode).Furisode untuk pengantin wanita berbeda darifurisode untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan untukfurisod e pengantin diberi motif yang dipercaya mengundang keberuntungan, seperti gambar burung jenjang. Warnafurisod e pengantin juga lebih cerah dibandingkanfurisode biasa.Shiro muku adalah sebutan untuk baju pengantin wanita tradisional berupafurisode berwarna putih bersih dengan motif tenunan yang juga berwarna putih.

2. Kimono wanita
     Terselubung yang dikandung masing-masing jenis kimono. Tingkat formalitas kimono wanita ditentukan oleh pola tenunan dan warna, mulai dari kimono paling formal hingga kimono santai. Berdasarkan jenis kimono yang dipakai, kimono bisa menunjukkan umur pemakai, status perkawinan, dan tingkat formalitas dari acara yang dihadiri.

Ada Macam - Macam Jenis Kimono Wanita, diantaranya :
        A. Kurotomesode

Tomesode adalah kimono paling formal untuk wanita yang sudah menikah. Bila berwarna hitam, kimono jenis ini disebut kurotomesode (arti harfiah: tomesode hitam). Kurotomesode memiliki lambang keluarga (kamon) di tiga tempat: 1 di punggung, 2 di dada bagian atas (kanan/kiri), dan 2 bagian belakang lengan (kanan/kiri). Ciri khas kurotomesode adalah motif indah padasuso (bagian bawah sekitar kaki) depan dan belakang. Kurotomesode dipakai untuk menghadiri resepsi pernikahan dan acara-acara yang sangat resmi.
        B. Irotomesode
Tomesode yang dibuat dari kain berwarna disebut irotomesode (arti harfiah: tomesode berwarna). Bergantung kepada tingkat formalitas acara, pemakai bisa memilih jumlah lambang keluarga pada kain kimono, mulai dari satu, tiga, hingga lima buah untuk acara yang sangat formal. Kimono jenis ini dipakai oleh wanita dewasa yang sudah/belum menikah. Kimono jenis irotomesode dipakai untuk menghadiri acara yang tidak memperbolehkan tamu untuk datang memakai kurotomesode, misalnya resepsi di istana kaisar. Sama halnya seperti kurotomesode, ciri khas irotomesode adalah motif indah pada suso.
C. Furisode
Furisode adalah kimono paling formal untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan berwarna-warni cerah dengan motif mencolok di seluruh bagian kain. Ciri khas furisode adalah bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Furisode dikenakan sewaktu menghadiri upacara seijin shiki, menghadiri resepsi pernikahan teman, upacara wisuda, atauhatsu mode. Pakaian pengantin wanita yang disebut hanayome ishō termasuk salah satu jenis furisode.
3. Kimono Pria
Kimono pria dibuat dari bahan berwarna gelap seperti hijau tua, coklat tua, biru tua, dan hitam.
• Kimono paling formal berupa setelanmontsuki hitam dengan hakama dan haori.
Bagian punggungmontsuki dihiasi lambang keluarga pemakai. Setelan montsuki yang dikenakan bersama hakama dan haori merupakan busana pengantin pria tradisional. Setelan ini hanya dikenakan sewaktu menghadiri upacara sangat resmi, misalnya resepsi pemberian penghargaan dari kaisar/pemerintah atau seijin shiki.
Dan 1 lagi, Kimono santai ki nagashi
Pria mengenakankinagashi sebagai pakaian sehari-hari atau ketika keluar rumah pada kesempatan tidak resmi. Aktor kabuki mengenakannya ketika berlatih. Kimono jenis ini tidak dihiasi dengan lambang keluarga.

Kamis, 09 Januari 2014

Zaman Prasejarah Jepang

Nah kali ini saya akan menyimak tentang Sejarah Jepang,anda penasaran? makanya baca dulu =D wkwkwk..

Zama Prasejarah Jepang

Zaman Paleolitik Jepang (旧石器時代 Kyūsekki Jidai) diperkirakan dimulai sekitar 100.000 SM hingga 30.000 SM berdasarkan artefak alat-alat dari batu yang telah ditemukan, dan berlanjut sekitar 14.000 SM, pada zaman es akhir yang bertepatan dengan awal periode Mesolitik (zaman Jōmon). Keberadaan manusia di Kepulauan Jepang sebelum 30.000 SM–35.000 SM adalah kontroversial. Keautentikan artefak yang mendukung keberadaan manusia sebelum 35.000 SM di Kepulauan Jepang masih diragukan.
Fosil tertua tulang manusia ditemukan di Hamamatsu, Shizuoka. Penanggalan radiokarbon mengungkap fosil-fosil tersebut berasal dari sekitar 14.000–18.000 tahun lalu.
Selanjutnya berikut batu-batu yang ada pada zaman paleolitik,simak baik-baik ya :D
Maaf klo cuma 1 gambar aja,soalnya batunya pada ilang semua,hehehe ><
Alat-alat berupa batu giling dan batu asah dari periode Paleolitik Jepang diketahui termasuk paling tua di dunia, berasal dari sekitar 30.000 SM. Teknologi alat batu seperti ini umumnya dikaitkan dengan awal periode Neolitik sekitar 10.000 SM di bagian lainnya di dunia. Hingga saat ini tidak diketahui alasan alat-alat tersebut diciptakan begitu awal di Jepang. Meskipun demikian, periode Paleolitik Jepang umumnya terjadi ketika iklim dunia mulai menghangat (30.000–20.000 tahun lampau), orang-orang waktu itu mungkin telah menggunakannya.
Berdasarkan penemuan alat-alat batu tersebut, definisi periode Paleolitik Jepang berbeda dengan definisi umum periode Paleolitik menurut teknologi batu (alat-alat batu serpih). Alat-alat batu dari periode Paleolitik Jepang sudah menunjukkan ciri-ciri Mesolitik dan Neolitik paling tidak sejak 30.000 SM.

Yang ke 2 ialah Zaman Jomon
Zaman Jōmon (縄文時代 jōmon jidai) adalah sebutan zaman prasejarah kepulauan Jepang yang dimulai dari akhir zaman Pleistosen hingga zaman Holosen, bersamaan dengan zaman batu pertengahan atau zaman Batu Baru yang ditandai dengan mulai digunakannya barang-barang tembikar. Okinawa berada pada zaman tumpukan kulit kerang ketika kepulauan Jepang yang lain berada pada zaman Jōmon.
Kegiatan manusia pada zaman Jōmon dalam mencari makanan bergantung pada tempat tinggalnya. Manusia yang tinggal di daerah yang diberkahi kekayaan sumber alam mencari makan sebagai pemburu dan pengumpul jenis tanaman yang bisa dimakan. Manusia zaman Jōmon mulai mengenal kebudayaan tembikar yang bersifat artistik. Ada kecenderungan kebudayaan Jōmon lebih berkembang di Jepang bagian timur berdasarkan jumlah situs penggalian dan beragam jenis barang tembikar yang berhasil ditemukan. Orang zaman Jōmon mulai membuat bejana tanah liat yang dihias dengan pola-pola yang dicetakkan ke atas permukaan bejana sewaktu masih basah dengan menggunakan tongkat kayu atau tali atau simpul tali. Walaupun hasil penelitian menimbulkan keragu-raguan, menurut tes penanggalan radiokarbon, beberapa contoh tembikar tertua di dunia berasal dari Jepang, disertai pisau belati,giok, sisir dari kulit kerang, dan barang-barang keperluan rumah tangga lainnya berasal dariabad ke-11 SM. Boneka tanah liat yang disebut dogū juga ditemukan dari situs ekskavasi. Barang-barang rumah tangga menunjukkan kemungkinan ada rute perdagangan yang jauhnya sampai keOkinawa. Analisis DNA menunjukkan bahwa penduduk asli Hokkaido dan bagian utara Pulau Honshu yang disebut suku Ainu adalah keturunan orang zaman Jōmon dan merupakan keturunan dari manusia pertama penghuni Jepang.

Dan terakhir adalah Zama Yayoi
Zaman Yayoi (弥生時代 yayoi jidai) adalah salah satu zaman dalam pembagian periode sejarah Jepang yang mengacu pada Jepang (dengan perkecualian Hokkaido) pada abad ke-8 sebelum Masehi hingga abad ke-3 Masehi. Ciri khas pada barang peninggalan berupa tembikar gaya zaman Yayoi dan penguasaan teknik penanaman padi di sawah. Barang-barang peninggalan dari zaman ini pertama kali ditemukan di situs penggalian tumpukan kulit kerang di Yayoi-cho (sekarang distrik Bunkyō di Tokyo) sehingga dinamakan zaman Yayoi. Kebudayaan zaman Yayoi berkembang dari pulau Kyushu sampai sebelah timur pulau Honshu.
Sejalan dengan kemajuan dalam bidang pertanian dikenal perbedaan kelas dan perbedaan kaya miskin yang melahirkan pengelompokkan wilayah yang bisa disebut sebagai bentuk awal negara yang dikenal dengan sebutan Kuni (negara-negara kecil).
Perebutan air dan tanah untuk memperluas penanaman padi di sawah menumbuhkan permukiman penduduk, wilayah terbentuk sebagai hasil perang antar desa, usaha perluasan wilayah dan penguasaan daerah menimbulkan perang antar negara-negara kecil yang meluas di seluruh kepulauan Jepang. Pada waktu itu berhasil terbentuk negara-negara kecil berdasarkan daerah seperti Kyushu bagian utara , Kibi, San-in, Kinki, Tōkai, dan Kanto. Pertempuran untuk mencari sekutu dan menyatukan wilayah kekuasaan yang terjadi berulang-ulang kali merupakan proses untuk membentuk negara Jepang zaman kuno.

Nah itulah cerita singkat yg bisa diambil pada Zaman Zaman Prasejarah di Jepang,sekian dari saya Wassalam..

Selasa, 07 Januari 2014

Assalamualaikum Wr.Wb,perkenalkan nama saya Ahmad Faris Alkautsar dari SMK PGRI 1 Jakarta. Disini saya ingin mengenalkan kepada kalian tentang Jepang.
Berbicara mengenai eksotisme dan keindahan negeri sakura mungkin tak cukupkata untuk melukiskan keindahan negeri ini, negeri di mana saat ini saya menimba ilmu. Saya jadi teringat beberapa pengunjung blog ini yang begitu berapi-api dan sangat terobsesi untuk mencicipi atmosfer negeri sakura, dan begitu ingin tahu informasi lebih tentang negeri eksotis di seberang lautan ini. Sependapat dengan beberapa pengunjung blog ini, saya juga terperanjat kaget melihat keindahan negeri sakura ini begitu menjejakkan kaki saya pertama kali di negeri ini, jauh dari apa yang bisa saya bayangkan ketika membaca buku panduan tentang Jepang. 50 tahun lebih hubungan persahabatan Indonesia – Jepang, selayaknya memotivasi kita untuk mengexplore lebih jauh lagi tentang negeri sahabat kita ini.
Jepang boleh dibilang bukan negara yang luas, luas daratan Jepang 378.000 km2, yaitu satu per dua puluh lima dari luas Amerika Serikat (sedikit lebih kecil daripada Kalifornia), satu per dua puluh dari Australia, dan 1,5 kali luas Britania. (Bandingkan dengan luas daratan Indonesia : 2.027.087 km2). Tiga perempat negeri Jepang bergunung-gunung, sedangkan bagian selebihnya berbentuk dataran dan cekungan. Jepang terdiri dari rangkaian pulau-pulau yang membentang sepanjang 3000 kilometer dari utara ke selatan. Empat pulau utamanya adalah Hokkaido, Honshu, Shikoku, dan Kyushu.
Jepang dikelilingi laut. Arus hangat dan dingin mengalir melalui laut-laut di sekitarnya, sehingga membentuk lingkungan yang mendukung berkembangnya berbagai spesies ikan. Sebagian besar wilayah Jepang berada dalam Zona Utara Beriklim Sedang dan beriklim monsun yang lembab, dengan angin tenggara yang bertiup dari Samudera Pasifik selama musim panas dan angin barat-laut yang bertiup dari benua Eurasia (Eropa-Asia) pada musim dingin.
Negeri Jepang mempunyai empat musim yang beroratasi teratur setiap tahunnya. Pemandangan indah di wilayah Jepang terjadi di dua musim yaitu ketika bunga sakura bermekaran di musim semi dan dedaunan berubah menjadi warna-warni merah, jingga, dan kuning yang mempesonakan pada musim gugur. Rakyat Jepang menikmati pertanda-pertanda perubahan musim dan mengamati perkembangannya dengan memperhatikan laporan cuaca, yang menampilkan peta di mana sakura sedang bermekaran pada musim semi dan dedaunan musim gugur sedang indah-indahnya. Ujung utara dan selatan Jepang mempunyai iklim yang sangat berbeda. Misalnya, pada bulan Maret, orang dapat berjemur sinar matahari di wilayah selatan atau bermain ski di wilayah utara!